Melihat Kualitas Informasi dari segi Aksesibelitas

05.45



Pernahkan anda mencari sebuah informasi dari website sebuah perpustakaan dari suatu tempat dan teman-teman menemukan beberapa informasi dibutuhkan?? Tapi apa yang teman-teman pikirkan ketika beberapa informasi yang muncul tersebut hanya sebagian yang dapat kita akses, atau bahkan saat kita mencoba akses, muncul notifikasi “akses secara lengkap harap mengunjungi perpustakaan di bagian bla bla bla”. Pasti rasanya sedih yak, seakan-akan kita liat sepiring ayam goyeng di depan mata, tapi kita cuma bisa liatin doang, hiks. Mungkin setelah itu kalian bilang dalam hati, tau gitu mending gugling aja tadi.
Cerita tersebut dapat memberikan kesan bahwa pendistribusian informasi yang disediakan perpustakaan seakan tidak simple, ribet, dan tidak aksesibel. Pendit menceritakan bahwa pada tahun 2007-n perpustakaan di Indonesia mulai berkembang. Beberapa perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia mulai mengoleksi e-journal, koleksi bentuk lain seperti web dosen, web fakultas dan jurusan, rujukan ke mailing list tempat diskusi ilmuan dan rekod atau arsip yang berkaitan dengan pendidikan. Namun yang terjadi secara realitas pada saat itu dan mungkin hingga sekarang adalah sistem yang disediakan sebatas OPAC sebagai sarana pencari, terkadang e-book yang hanya merupakan hasil konversi dari bentuk cetak dan akses koleksi-koleksi tersebut terpisah dan belum terintegrasi (Pendit, 2007: 145).
Mungkin jika kita amati saat ini masih banyak perpustakaan di Indonesia yang seperti diceritakan Pendit tersebut. Seakan-akan perpustakaan yang mulai berkembang tersebut masih belum dapat meninggalkan kebiasaan konvensional mereka. Beberapa website perpustakaan di Indonesia memang sudah berkembang hingga dapat melayankan koleksi penelitian mereka, namun jika yang dilayankan hanya sebatas judul atau bagian kecil informasi dari suatu koleksi, hal tersebut mungkin tidak jauh berbeda dengan “sebatas sarana penelusuran” yang diceritakan Pendit.
Hal itu tentunya berpengaruh pada kualitas informasi yang disediakan sebuah perpustakaan, karena diantara kriteria kualitas informasi yaitu dapat dilihat dari segi aksesibelitasnya. Secara lebih lanjut Lee menjelaskan bahwa ukuran aksesibel yang dimaksud yaitu: 1. This information is easily retrievable, 2. This information is easily accessible, 3. This information is easily obtainable, 4. This information is quickly accessible when needed (Lee, 2001: 20).  
Beberapa ahli juga menjelaskan mengenai batasan dari kualitas informasi jika dilihat dari segi aksesibelitasnya. Berikut beberapa kriteria tersebut:
Melihat kriteria-kriteria tersebut mungkin masih belum sesuai dari apa yang kita temukan di perpustakaan Indonesia. Jika membandingkan dengan adanya google, dia nampak dapat memberikan “informasi yang berkualitas”, jika kita lihat dari segi aksesibilitas.
Namun jika kita melihat google sebagai sumber informasi, apakah kita dapat mengatakan informasi yang diberikan google selalu berkualitas? Tentu tidak, selain dari segi aksesibilitas, kualitas informasi harus dilihat dari segi lain, seperti bagaimana informasi tersebut dapat dipercaya kebenaranya. Kahn secara lebih detail menjelaskan 16 kriteria kulitas informasi. Yaitu:

Lalu apa pendapat teman-teman mengenai artikel ini??

Referensi
Lee, Yang W, Dkk. 2001. “AIMQ: A Methodology for Information Quality Assessment”.  Forthcoming in Information & Management, published by Elsevier Science (North Holland). Sumber Bacaan Matakuliah Isu-isu Kontemporer Informasi MIP UGM semester 1 2016-2017. Dosen Pengampu: Ida F Priyanto.

Pendit, Putu Laxman. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta: Sagung Seto.

Kahn, Beverly K, dkk. 2002. “Information Quality Benchmarks: Product and Service Performance”. April 2002/Vol. 45, No. 4ve COMMUNICATIONS OF THE ACM. Sumber Bacaan Matakuliah Isu-isu Kontemporer Informasi MIP UGM semester 1 2016-2017. Dosen Pengampu: Ida F Priyanto.

You Might Also Like

7 komentar

  1. menurutq artikelny understandable mas very,memang kesel jg rasanya diPHP kyk gt,mungkin krn tingkat kepercayaan institusi itu ke userny msh setengah hati jadi kt cm bs mencicip saja tapi sampai kapan ya mau kyk gt??!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya masih sayang mau open aksesnya.. mungkin tar klo di indo uda pada beralih ke perpus digital baru g ad php y mb e.. kakaka,, bisa "nyemil" banyak informasi

      Hapus
  2. persoalannya karena pustakawan masih dan terus diberikan pemahaman bahwa pustakawan adalah penjaga sumber informasi. Jadi tidak akan menunjukkan atau berbagi secara free.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin juga jika akses informasi terbuka lebar mereka khawatir para pengunjungnya sepi, karna pandangan perpstkaan sebagai tempat informasi, dan jika infrmasi cukup akses melalui web, user tidak perlu ke peprustakaan.. pdhl bnyk sekali alasan bagi user ke perpustakaan, dan skrng juga merupakan hal penting baagi perpustakaan untuk memperhatikan sarana lain yg disediakan

      Hapus
  3. Di - PHP yaa gitu deh rasanya, campur aduk jadi pemustaka. Mau akses informasi ini itu, tapi apa daya diri ini. Informasinya oke, Very. Makasih

    BalasHapus
  4. iyapp mas very tp kadang masalah seperti itu karena sebuah aturan yg telah ditetapkan,trus gmn dong peran pustakawan sbg ahli informasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu ya mb tiwi, klo hubungannya uda sama aturan jadi susah ya, beda persepsi beda kebijakan..

      Hapus

Popular Posts