Instan Virtual Reference Services
20.27
Munculnya berbagai teknologi baru
yang inovatif membantu memenuhi kebutuhan setiap orang yang menginginkan
segala sesutu dengan cepat, mudah dan praktis. Seperti dalam hal pemesanan
barang yang mungkin pernah teman-teman lakukan. Terkadang kita tidak cukup
sabar menunggu respon seller pada lapak online, sering kali kita menghubungi
nomor yang tersedia, mengirim pesan lewat bbm, whatsapp hingga menelpon
berulang kali untuk menyatakan bahwa “saya sangat menginginkan barang itu”. Jika
teman-teman pernah menjadi seller jual beli online, mungkin kita bergumam dalam
hati “apaan sih ni orang, g bisa sabar dikit napa”.
Hal semacam ini sudah menjadi sesuatu yang wajar karena sekarang
ini setiap orang menginginkan sesuatu serba cepat. Begitu juga dalam hal
pengiriman barang, para buyer lebih memilih merogoh kocek lebih agar keesokan
harinya pesanan mereka sampai walaupun itu dari pulau lain, dari pada harus
menunggu satu minggu. Bahkan jika kita berada pada satu kota, sering kali buyer
meminta barang dapat sampai pada hari itu juga. Lalu bagaimana dengan layanan
yang disediakan di perpustakaan? Apakah perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan
user pada waktu yang tepat sesuai keinginan mereka? Juniper networks (2015:
7) menyatakan bahwa “in the digital age, it’s all about survival
of the fastest”. Oleh karena itu menjadi penting bagi perpustakaan untuk
meningkatkan berbagai macam layanan yang disediakan jika mereka ingin tetap
bertahan.
Menanggapi tuntutan layanan yang harus berkembang sesuai dengan
keinginan user yang menuntut serba cepat, membuat beberapa layanan inovatif
yang disediakan di beberapa perpustakaan. Diantaranya yaitu penerapan layanan virtual
referens.
American Library
Association (2010: 1) menjelaskan “Virtual
reference is reference service initiated electronically where patrons employ
computers or other technology to communicate with public services staff without
being physically present”. Bentuk layanan
virtual referens ini bermacam-macam sesuai dengan inovasi masing-masing
perpustakaan. Vohra (2007: 622-623) menyatakan beberapa bentuk layanan virtual referens yaitu:
1. Digital
Reference Service seperti
e-mail, web and real time reference services
yang meliputi kegiatan: layanan tanya jawab agar pengguna dapat
mengajukan pertanyaan, membuat komentar melalui e-mail atau chatting dan pesan
instan.
2. Frequently
Asked Questions: menyediakan jawaban untuk pertanyaan
yang sering ditanya. Pada layanan ini user dapat memperoleh jawaban yang telah
ada mengenai pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan tanpa kehadiran
pustakawan.
3. Loan
and Document Delivery Service: Pinjaman dari dokumen
dalam bentuk fisik atau hasil alihmedianya ke perpustakaan lain, atau layanan transmisi
elektronik yang dilakukan dari dokumen.
4. Current
Awareness Service: Para pembaca, ahli atau peneliti diinfokan
mengenai literatur baru yang diterbitkan dalam bidang spesialisasi mereka.
Selain
kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada layanan virtual referens tersebut,
beberapa layanan virtual referens yang telah diterapkan di beberapa perpustakaan
sebagai berikut:
1. Layanan
Ask a Librarian, pada Central Library Singapore Management University. Dalam
layanan ini pustakawan membuka layanan live
chat yang buka pada hari senin - jumat pukul 10 a.m - 4 p.m dan hari minggu
pada pukul 12 p.m - 6 p.m. Perpustakaan juga menyediakan layanan email, telfon
dan konsutasi riset. Konsultasi riset yang disediakan pada user, mereka juga
dapat memilih subjek pustakawan yang merupakan seorang pakar dalam suatu subjek
keilmuan. Pada layanan ini user dapat langsung mengirimkan email pada pakar
tersebut atau menghubungi contak person dari pakar yang telah disediakan di menu
pilihan pakar (http://askalibrarian.smu.edu/).
2. Ask Us, yang disediakan oleh University
of Kentucky Library, memfasilitasi user untuk live chat dengan pustakawan referens, konsultasi personal,
menyediakan layanan desk referens
secara online melalui email refdesk@uky.edu,
dan menyediakan subjek spesialis yang dapat membantu user dalam pembelajaran
atau bagi mereka yang membutuhkan asisten penelitian. Selain itu pihak perpustakaan
juga menyediakan nomor telfon khusus untuk layanan referens (http://libraries.uky.edu/Ask).
3.
Ask a Librarian, yang disediakan perpustakaan
Harvard University. Layanan ini menyediakan layanan email untuk bertanya pada
pustakawan referens. Layanan lain yang dapat digunakan user yaitu mereka dapat bertanya
pada pustakawan jika mereka memiliki sebuah masalah atau pertanyaan riset.
Layanan ini dibuka secara online pada senin - jumat pada pukul 9 a.m - 5 p.m. Fasilitas
lain pada perpustakaan ini yaitu layanan frequently
asked atau informasi jawaban yang telah dikelola dan dilayankan mengenai
pertanyaan yang biasanya ditanyakaan user, dan fasilitas reserch guide yang memerikan informasi seputar riset dari sumer e-rosurces
dari “Sage Reserch Method”. Perpustakaan juga memberikan link pada beberapa
sumber koleksi riset di tempat lain atau di perpustakaan lain di Harvard
University (http://library.harvard.edu/).
Berbagai macam
jenis layanan virtual referens tersebut bertujuan untuk memudahkan para user
agar apa yang mereka keluhkan dapat terselesaikan secara lebih instan tanpa
harus datang ke perpustakaan. Lalu bagaimana seharusnya dengan perpustakaanmu?
Referensi:
American Library Association. 2010. Guidelines for Implementing and Maintaining
Virtual Reference Services. Division Reference and User Service Assosiation.
Diunduh dari: http://www.ala.org/rusa/sites/ala.org.rusa/files/content/resources/guidelines/virtual-reference-se.pdf. Pada 3
September 23.04.
Juniper networks. 2015.
Instant Evolution in The Age of Digitization: Turn Technology Into Your
Competitive Advantage. Diunduh dari: https://www.juniper.net/assets/uk/en/local/pdf/whitepapers/instant-evolution-wp-uk.pdf.
Pada 6 September 18.36.
Vohra, Neeru Bhatia Ranjana. 2007. Trends
in Reference and Information Services in The Electronic Era: A Case Study of A
C Joshi Library, Panjab University, Chandigarh. 5 Th International Caliber-2007, Panjab University,
Chandigarh, 08-10 February, 2007. Inflibnet Centre, Ahmedabad. Diunduh dari: http://ir.inflibnet.ac.in/bitstream/1944/1437/1/617-630.pdf.
Pada 4 September 23.47.
7 komentar
Persoalan di Indonesia adalah mindset untuk berubah. Rata-rata pustakawan kita masih berpikir perpustakaan sebagai tempat kerja yang memiliki jam buka tertentu dan aturan tertentu.
BalasHapusSeandainya perpustakaan di Indonesia membuka layanan selama 24 jam , 7 hari dalam seminggu. Betah banget nongkrong di perpustakaan untuk nugas, mencari dan berbagi informasi, dan rekreasi pastinya.
BalasHapusiy ya mb dan, bisa lebih serasa dirumah yg open 24 jam
Hapuscendol sent, mas verry :D
BalasHapusdukungan pemerintah juga diperlukan dalam menyediakan infrastruktur jaringan yang luas dan terjangkau bagi perpustakaan
mksh cendolnya mas dani.. betul bigit, tks 4 comment
HapusPerpus UB sedang mengarah kesana mas ver,layanan mulai jam 6pagi-10mlm,,sabtu minggu bukak,,semoga ke depan lebih cepat berkembang..dan komunikasi dgn user jg sudah mulai dibangun mulai dr email,fb,dll...good information very...
BalasHapuswew.. mantab ya pelan2 tpi pasti..
Hapus