TENTANG PIM

17.55



Banyaknya informasi seringkali menjadikan seseorang merasa kebingungan untuk memilih apa yang mereka butuhkan. Kebingungan tersebut tidak hanya terjadi saat kita membutuhkan informasi lain yang ingin kita peroleh, terkadang kita juga merasa bingung pada saat mencari informasi kita sendiri yang telah kita simpan sebelumnya. Oleh karena itu menjadi penting bagi setiap orang untuk mengetahui bagaimana cara mengelola informasi yang dimiliki agar saat dibutuhkan dapat dengan mudah ditemukan kembali. Hal ini erat kaitannya dengan bagaimana bagaimana pelaksanaan pengelolaan informasi masing-masing personal atau yang lebih akrab kita dengan dengan sebutan Personal Information Manajemen (PIM).
Apa itu PIM?
Berbagai macam definisi mengenai apa itu PIM, diantaranya yaitu yang menyatakan bahwa PIM merupakan kumpulan konten informasi pribadi yang diciptakan oleh individu, yang dapat digunakan pada saat mereka membutuhkan informasi tersebut. Informasi personal juga didefinisikan sebagai sarana yang kita gunakan untuk membantu pelaksanaan kegiatan. Informasi-informasi ini terdiri dari berbagai sumber informasi yang telah diperoleh individu dan diorganisir dari waktu ke waktu. Bergman menyatakan bahwa informasi personal yaitu kumpulan informasi pribadi seseorang dalam berbagai format teknologi tertentu. Untuk pengelolaan informasi personal ini seseorang dapat melakukan penyimpanan dengan benar, seperti melakukan pengindekan agar saat dibutuhkan dapat dengan mudah ditemukan (Williams, 2009: 344).
Pendapat lain yaitu yang menyatakan bahwa PIM sendiri merupakan sebuah kombinasi dari teori dan praktek recording, organizing, maintaining, searching, retrieval and penggunaan item yang terkait dengan informasi pribadi seseorang. Seperti pesan singkat teks, email, dokumen pribadi, halaman web, dan pengingat yang disimpan dalam bentuk catatan atau teks pada ponsel. Adanya berbagai macam format dari informasi personal ini menjadikan adanya ketepatan dalam pemilihan metode, sarana, dan teknik yang digunakan seseorang untuk mengelola masing-masing informasi yang dimiliki (Ullah, 2016: 366).
Hal penting dalam PIM
PIM bertujuan untuk mendukung penggunanya dalam pengumpulan, penyimpanan dan pengambilan informasi pribadi mereka. Hal ini bertujuan agar dalam kegiatan PIM dapat mendukung mendukung pengguna dalam melakukan tugas-tugas mereka. Cara yang paling mudah untuk melakukan hal ini yaitu dengan melakukan identifikasi mengenai tugas apa yang sering mereka lakukan (Catarci, 2006: 78).
Beberapa studi telah mengkaji bagaimana pelaksanaan PIM yang efektif. Dorsey menyatakan bahwa terdapat 7 kategori dalam pelaksanaan PIM, yaitu: 1. Retrieving information, 2. Evaluating information, 3. Organizing information, 4. Collaborating around information, 5. Analyzing information, 6. Presenting information, 7. Securing information (Kearns, 2014: 2-3). Pendapat lain menyampaikan bahwa dalam kegiatan PIM, kita juga perlu memperhatikan hal-hal terkait dengan: 1. Bagaimana kita menjaga dan memelihara dengan cara menyediakan ruang pribadi untuk informasi, 2. Bagaimana kita mendapatkan kembali informasi yang telah kita simpan, 3.  Adanya level pengelolaan yang berbeda pada informasi yang kita miliki (Kearns, 2014: 2).
Life cycle PIM
Williams menjelaskan siklus dari informasi personal (khususnya dalam bentuk digital) ke dalam 3 fase, yaitu:
1.    Obtaining information, fase ini yaitu saat seseorang memperoleh informasi. Dalam memperoleh informasi seseorang dipengaruhi oleh 3 hal yaitu: 1. Saat seseorang secara aktif melakukan pencarian untuk mendapatkan informasi. 2. Ketika seseorang pasif dalam melakukan pencarian, namun menerima informasi. 3. Aktif menciptakan informasinya sendiri.
2.    Short-term information management, pada fase ini kita menunjukkan bagaimana pengelolaan informasi yang kita lakukan dalam jangka pendek. Seseorang harus mempertimbangkan apakah informasi yang telah mereka miliki atau ada di sekitar mereka akan disimpan atau ditinggalkan. Hal ini tentunya menjadi penting karena informasi yang tersimpan akan  mempengaruhi pengelolaan informasi dalam jangka panjang.
3.    Long-term personal archiving and preservation, yaitu fase dimana kita mengarsipkan informasi-informasi personal kita dalam jangka panjang dan bagaimana kita menjaganya agar dapat tetap digunakan dalam jangka lama (Williams, 2009: 344, 348, 350).
Bagiamana pengelolaan PIM?
Informasi personal yang dimiliki seseorang dapat berbentuk tercetak ataupun digital. Untuk informasi bentuk cetak kita miliki, mungkin kita dapat kita kelola di almari penyimpanan berkas. Pengelolaan ini tentu tidak hanya dengan melakukan penyimpanan, kita juga harus mempertimbangkan tingkat pentingnya dokumen tersebut, sehingga kita juga perlu melakukan kegiatan pencegahan untuk meminimalisir tingkat kerusakan dokumen. Cara yang sederhana seperti: 1. Mengelompokkan arsip pada map-map dan kemudian kita kelompokkan dalam boks arsip. 2. Untuk arsip-arsip foto kita masukkan ke amplop-amplop untuk menghindari kerusakan jika kita simpan pada album plastik. 3. Memberikan kapur barus untuk mengurangi resiko kerusakan karena serangga. 4. Memastikan terletak pada tempat aman dari hal-hal yang dapat merusak, seperti bocor saat hujan dll.
Untuk pengelolaan informasi personal bentuk digital kita dapat memenfaatkan sarana pada storage yang disediakan secara online. Hal ini dapat dilakukan secara lebih mudah dan praktis daripada kita melakukan pengelolaan informasi personal berbentuk cetak. Atau kita juga dapat melakukan alihmedia informasi personal tercetak yang kita miliki untuk membuat adanya file duplikasi saat kita butuhkan (Williams, 2009: 345).

Referensi:
Kearns, Lorna R. 2014. A Study of Personal Information Management Strategies for Online Faculty. Journal of Asynchronous Learning Networks, Vol 18, No 1 (2014).

Lepouras, George. Dkk. 2006. OntoPIM: From Personal Information Management to Task Information Management. A SIGIR 2006 Workshop Personal Information Management.

Ullah, Irfan, dkk. 2016. StudentPIMS: A Smartphone-Based Personal Information Management System for Students. International Journal of Computer Science and Information Security (IJCSIS), Vol. 14, No. 4, April 2016. 

Williams, Peter, dkk. 2009. The personal curation of digital Objects A lifecycle approach. Emerald, Vol. 61 No. 4, 2009 pp. 340-36.

You Might Also Like

2 komentar

  1. perlukah kita mempertimbangkan digital curation? Seperti kita ketahui, file-file dalam berbagai formaat tiak akan selalu compatible dengan aplikasi yang terus berkembang. Misalnya, naskah yang kita tulis dalam Word tahun 2005, barangkali harus dipertimbangkan agar naskah tersebut masih dapat dibaca pada tahun 2050 . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika pada arsip tekstual koleksi lama bisa dialihmedia atau diperbaiki, mungkin pada file digital yg masih kita gunakan dapat terus kita pindahkan seiring mnculnya aplikasi baru, biar file tidak kaget dg beda seri aplikasi yg terlalu jauh..

      Hapus

Popular Posts